POPULER
-
Banyak hal yang sebenernya bisa gue ceritain disini.. tapi akhir-akhir ini gue jadi agak males buat nulis. Entah kenapa..hehe Sebelum g...
-
“Hari telah berganti, tak bisa ku hindari. Tibalah saat ini bertemu dengannya. Jantungku berdegup cepat, kaki bergetar hebat. Akankah aku u...
-
Akhirnya setelah cukup lama gue bisa nulis lagi.. Semalem gue degerin lagunya Jikustik yang liriknya gini “Kapan lagi ku tulis untu...
-
Sebagai seorang Sheila Gank (Fans Sheila On 7) yang bisa di bilang cukup fanatik, banyak orang sering bertanya kepadaku tentang Sheila ...
-
Nasib terbaik adalah tidak pernah di lahirkan.. Yang kedua dilahirkan dan mati muda.. Dan yang tersial adalah berumur tua.. Berbahagi...
-
Entah kenapa aku ingin menulis artikel dengan tema seperti ini. sebenarnya ini adalah sebuah "fenomena" yang sudah lama terjadi,...
-
7 mei 2011 Sore itu. Aku masuk di sebuah kafe yang berada di jalan pandanaran. Kafe dengan interior klasik, yang dikelilingi dengan ...
Jumat, 06 November 2015
“Semalem
kamu kemana?” Tanyaku kepada Dyas. Pacarku.
“Emmm…”
“Kenapa
sih gak bilang kalau kamu main sama temen-temenmu?”
“Emang
harus ya setiap aku mau ngapain laporan dulu sama kamu?”
“Bukan
itu masalahnya Yas, kamu inget kan seminggu lalu kita janjian kalau seharusnya
kemarin kita pergi bareng? Terus tiga hari lalu kamu batalin. Inget alasan kamu
apa?” Dyas hanya diam dan memalingkan pandangannya dariku. Aku pikir di memang
lupa dengan janji itu. “Yang jadi masalah kenapa kamu gak jujur kalau mau pergi
sama temen-temen kamu?” lanjutku.
“Aku
gak masalah kalau kamu mau jalan sama temen-temenmu, kamu emang butuh mereka.
Tapi kenapa kamu jadi bohong sama aku?” masih tanpa kata dia diam. “Kalau kamu
belum mau bicara gak apa-apa, kita bahas nanti. Aku mau kuliah dulu.”
Label:
Cerita Bersambung
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)