POPULER
-
Banyak hal yang sebenernya bisa gue ceritain disini.. tapi akhir-akhir ini gue jadi agak males buat nulis. Entah kenapa..hehe Sebelum g...
-
“Hari telah berganti, tak bisa ku hindari. Tibalah saat ini bertemu dengannya. Jantungku berdegup cepat, kaki bergetar hebat. Akankah aku u...
-
Akhirnya setelah cukup lama gue bisa nulis lagi.. Semalem gue degerin lagunya Jikustik yang liriknya gini “Kapan lagi ku tulis untu...
-
Sebagai seorang Sheila Gank (Fans Sheila On 7) yang bisa di bilang cukup fanatik, banyak orang sering bertanya kepadaku tentang Sheila ...
-
Nasib terbaik adalah tidak pernah di lahirkan.. Yang kedua dilahirkan dan mati muda.. Dan yang tersial adalah berumur tua.. Berbahagi...
-
Entah kenapa aku ingin menulis artikel dengan tema seperti ini. sebenarnya ini adalah sebuah "fenomena" yang sudah lama terjadi,...
-
7 mei 2011 Sore itu. Aku masuk di sebuah kafe yang berada di jalan pandanaran. Kafe dengan interior klasik, yang dikelilingi dengan ...
Kamis, 28 Februari 2013
Saat
aku pulang ke rumah pada malam setelah matahari terbenam aku melewati sebuah
jalan setapak di tengah-tengah perkebunan teh. Perkebunan yang sangat
luas milik seorang pedagang kaya dari kota. Disamping jalan terdapat sebuah
batu besar yang diatasnya ada seseorang lelaki tua sedang mamandangi langit
seja. Dia duduk dengan malipat kaki di depan dadanya dan mendekapnya dengan
kedua tangannya. Dari raut wajahnya terlihat banyak sekali kerutan, menandakan
usianya yang sudah lebih dari 70 tahunan. Saat melewatinya aku coba menyapa
lelaki tua itu, tapi ia mengacuhkanku dan tetap melihat ke langit dengan air
menetes dari mata tuanya.
Pada
hari yang lain aku kembali melewati jalan tersebut. Kali ini aku melewatinya
pada senja hari, tepat sebelum matahari menidurkan desa ini. Sama seperti hari
sebelumnya, aku melihat laki-laki tua itu duduk di atas batu. Yang berbeda
adalah arah pandangannya, dia memandangi perkebunan teh di depannya. Sebuah
suara aku dengar darinya, suara tawa kecil keluar dari mulutnya. Akupun
melewatinya dengan diam.
Label:
Cerita Singkat
|
0
komentar
Rabu, 20 Februari 2013
Dahulu
di sebuah desa kecil ada seorang perempuan yang sangat dikagumi. Perempuan ini
di beri banyak kelebihan oleh Tuhan. Dia sangat cantik, bahkan cerita tentang
kecantikannya terdengar sampai penjuru negeri. Selain itu dia di beri kekayaan
yang sangat melimpah.
Banyak
sekali laki-laki yang tertarik padanya dan berusaha mendapatkannya.
Laki-laki silih berganti datang melamarnya untuk dijadikan istri. Suatu
hari datang seorang bangsawan datang untuk melamarnya.
Ketika
laki-laki itu datang dang mengungkapkan keinginannya untuk memperistri,
perempuan itu berkata dalam hatinya “kecantikanku terlalu berharga untuk
menjadi milik laki-laki gemuk seperti dia.” Akirnya perempuan itu menolak
lamaran bangsawan itu.
Label:
Cerita Singkat
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)