POPULER
-
Banyak hal yang sebenernya bisa gue ceritain disini.. tapi akhir-akhir ini gue jadi agak males buat nulis. Entah kenapa..hehe Sebelum g...
-
“Hari telah berganti, tak bisa ku hindari. Tibalah saat ini bertemu dengannya. Jantungku berdegup cepat, kaki bergetar hebat. Akankah aku u...
-
Akhirnya setelah cukup lama gue bisa nulis lagi.. Semalem gue degerin lagunya Jikustik yang liriknya gini “Kapan lagi ku tulis untu...
-
Sebagai seorang Sheila Gank (Fans Sheila On 7) yang bisa di bilang cukup fanatik, banyak orang sering bertanya kepadaku tentang Sheila ...
-
Nasib terbaik adalah tidak pernah di lahirkan.. Yang kedua dilahirkan dan mati muda.. Dan yang tersial adalah berumur tua.. Berbahagi...
-
Entah kenapa aku ingin menulis artikel dengan tema seperti ini. sebenarnya ini adalah sebuah "fenomena" yang sudah lama terjadi,...
-
7 mei 2011 Sore itu. Aku masuk di sebuah kafe yang berada di jalan pandanaran. Kafe dengan interior klasik, yang dikelilingi dengan ...
Selasa, 05 Mei 2015
07 Des. Sebuah tanggal yang dijadikan
nama album ketiga Sheila On 7. Tanggal itu pula aku mulai merakit asa dalam mimpi.
07 Desember 2013, ketika kau menerima perasaan ini. Rasa kasih sayang dan rasa
ingin memiliki. Bukan hanya sekedar untuk status, tapi untuk masa depan. Rasa suka
datang karena terbiasa. Ya, memeng begitulah kita. Meski di antara kita ada
lima kota. Tidak jauh memang, cukup dengan naik motor selama dua jam aku bisa
menjumpaimu. Tapi bukan itu, kesibukanku dan kesibukanmulah yang menghalangi
kita untuk bertemu.
Maaf. Aku tidak bisa menjadi kekasih
yang selalu ada di sisimu. Aku tidak bisa seperti pria lain yang bisa menemani
kekasihnya kemanapun. Aku memang sibuk dengan rutinitas pekerjaanku, bahkan
sempat meninggalkanmu selama tiga bulan karena aku harus berada di sisi barat
propinsi ini. Maaf jika selama membuatmu menahan rindu. Tapi tahukah kamu,
akupun selalu merasakannya. Rindu yang tak pernah bertepi.
Hanya dengan menyebut namamu dalam doaku, dalam setiap
permintaan setelah sujudku.aku bisa meredam rinduku. Jika memang aku tak bisa menyentuh ragamu
dengan tanganku, aku akan selalu menyentuh jiwamu dengan doaku.
Namun jalan kita sudah berbeda, kita
tak lagi berjalan beriringan. Ketika di persimpangan itu kita mengambil jalan
yang tak searah lagi. Berjalan dengan orang lain menuju arah kalian. Takdir
memang tak satu manusiapun yang tahu. Meski setelah beberapa belokan kau
kembali menemuiku di persimpangan, dan mengajak untuk berjalan berdampingan
lagi. Maaf aku tidak bisa. Karena saat ini aku sedang mencoba mensejajarkan
langkahku dengan perempuan yang ada di depanku. Meski aku tak tahu apa aku
bisa. Takdir memang tak satu manusiapun tahu. Jika memang takdir, kita akan
berjalan berdampingan lagi. Tapi saat ini aku masih menikmati jalanku, megejar
langkah lain di depan sana.
Dan di persimpangan jalan ini aku
ingin menyampaikan kepadamu. Yang mungkin selama ini tak pernah aku utarakan.
Thanks for your love.
Label:
Artikel
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
makasih juga mas